Keberadaan media sosial saat ini telah masuk dalam daftar kebutuhan
masyarakat. Media sosial menjadi semacam wabah dan menggejala menjadi
suatu kebutuhan. Tanpa mengenal batas usia, dari anak-anak hingga orang
tua larut bergumul dengan media sosial.
Sebenarnya, manusia sudah lama mengenal media sosial dunia. Menurut
Pepih Nugraha dalam buku Citizen Journalism, bahwa manusia memulai dunia
media sosial, sejak mereka mengenal e-mail yang pertama kali dikirmkan
tahun 1971. Kemudian disusul kemunculan mailing list, usenet, dan
bulletin board system.
Justen Hall, merupakan wartawan free lance yang dianggap sebagai blogger
pertama karena menulis catatan hariannya di internet tahun 1994.
Kemudian, istilah weblog mulai dikenal pada 1997. Dua tahun kemudian,
Peter Merholz menciptakan blog yang penggunanya bisa dipanggil blogger.
Pada tahun 1998-1999 bermunculan media sosial lain yang hampir serupa
dengan blog seperti Open Diary, Live Journal, Pitas.com, serta
blogger.com yang kemudian dibeli oleh Google tahun 2003. Jejaring
pertemanan Facebook muncul tahun 2004, bersamaan dengan Flickr. Layanan
yang berbagi video, Youtube, muncul tahun 2005. Setahun kemudian, muncul
Twitter dan Spotify.
Media sosial menjadi sebuah gaya hidup layaknya fashion, tontonan,
bacaan, dan makanan. Masyarakat terbius oleh facebook, twitter,
friendster, mig3, Yahoo Messenger, blog pribadi atau beramai-ramai dan
sebagainya. Media sosial menjadi primadona penggoda yang tidak
terelakkan dengan segudang manfaat yang layak dipertimbangkan tapi
berpotensi bahaya layaknya bom waktu. Media sosial mampu menjadi
penopang peradaban, namun juga menyita waktu untuk dibuang-buang
percuma.
Media sosial sebagai jendela dunia selain buku, menjadi jembatan
pertukaran informasi, gagasan, pengetahuan, berdiskusi, berbagi catatan
bahkan sampai mencipta opini. Masalah media sosial muncul ketika
fungsinya disalahgunakan untuk menebar kebencian, teror dan kebohongan.
Tanpa banyak halangan, orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan
mudah melakukan hal yang tidak terpuji itu, biasanya menggunakan akun
palsu tanpa perasaan takut terlacak.
Kita harus bijak menggunakan media sosial. Tidak berarti meninggalkan
sepenuhnya atau memberikan cercaan sebagai benda berbahaya, namun harus
lebih mampu menggunakannya untuk mendulang manfaatnya. Kemudian dengan
segala usaha menghindari kemudaratan yang dibawanya.
Tidak semua informasi layak dipublikasikan dalam media sosial. Seperti
informasi yang terlalu pribadi, sesuatu yang berbau permusuhan,
kebencian, teror dan kebohongan. Sebagai pengguna media sosial, kita
dituntut selektif terhadap informasi yang muncul di dalamnya. Tidak
semua hal dari media sosial, layak dikonsumsi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar